Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Akuntansi Piutang

Diposkan oleh Arif Nurhuda Senin, 14 September 2009

  1. PENGERTIAN PIUTANG

    Piutang merupakan klaim (hak untuk mendapatkan) uang dari entitas lain. Piutang juga disebut tagihan atau receivable. Menurut bukti pendukungnya piutang dapat dikelompokkan menjadi:

    1. Piutang Wesel/Notes Receivable atau Wesel Tagih, yaitu tagihan yang didukung oleh instrument kredit resmi seperti Promes. Promes adalah janji tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat.
    2. Piutang Usaha Biasa yaitu tagihan yang didukung oleh bukti usaha biasa biasa seperti faktur atau bukti bahwa perusahaan telah menjual barang/jasa ke fihak yang berhutang (debitur).


 

  1. PIUTANG WESEL

    Piutang Wesel adalah piutang yang didukung instrument kredit resmi seperti promes. Promes adalah janji tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat. Contoh adalah:


     


     

  2. AKUNTANSI WESEL TAGIH/PIUTANG WESEL

    Akuntansi untuk wesel dapat dibagi menjadi akuntansi pada saat timbulnya, saat jatuh tempo atau saat piutang ini dijual.

    1. Akuntansi saat timbulnya piutang wesel

      Wesel dapat timbul karena menjual barang secara kredit atau bias juga timbul karena perusahaan memberi pinjaman.

      1. Menjual barang/jasa secara kredit. Misalkan perusahaan menjual jasa secara kredit dan perusahaan menerima promes senilai Rp 1.000.000,00 maka jurnal yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Jan 2 


 

Piutang Wesel

Penjualan 


 

1.000.000 


 


 

1.000.000 

  1. Terdapat piutang yang sudah jatuh tempo. Misalkan perusahaan pada tanggal 2 Januari 2006 menjual jasa secara kredit dan jatuh tempo 2 Februari 2006. Pada tanggal 2 Januari 2006 perusahaan menerima promes senilai Rp 1.000.000,00 bunga 12% jatuh tempo 2 Mei 2006 sebagai pelunasan tagihan tersebut, maka jurnal yang yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Jan 2 


 

Piutang Wesel

Piutang 


 

1.000.000 


 


 

1.000.000 

  1. Akuntansi pada saat jatuh tempo. Mestinya pada tanggal jatuh tempo perusahaan akan menerima uang sebesar nilai nominal wesel dan bunganya. Tapi kadangkala debitur tidak sanggup membayar.

    1) Pada saat jatuh tempo debitur membayar, maka jurnal yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Mei 2 


 

Kas

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga 


 

1.030.000 


 


 

1.000.000

30.000 

2) Pada saat jatuh tempo debitur tidak membayar, jurnal yang dibuat adalah:

Tgl.

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Mei 2 


 

Piutang

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga 


 

1.030.000 


 


 

1.000.000

30.000 


 

  1. Menjual Wesel Tagih

    Sebelum jatuh temponya, suatu piutang wesel dapat dijual atau didiskontokan. Misalkan sebuah wesel sebagaimana tersaji pada angaka 2 diatas yang jatuh tempo pada tanggal 14 Juni 2006 dijual oleh PT ABC ke Bank Amanah pada tanggal 15 Mei 2001 dengan discount 10% setahun. Untuk menentukan jumlah yang diterima PT ABC, dibuat perhitungan sebagai berikut:

    Nominal piutang                            $2,500.00

    Bunga 16 Maret s.d. 14 Juni 2006=2,500 x 12% x 90/360         75.00

    Nilai pada jatuh tempo                         2,575.00

    Discount: 2,575 x 10% x 30/360                     21.46

    Jumlah yang diterima                         2,553.54

    Perhitungan hari bunga:

    Maret    = 15 hari

    April    = 30 hari

    Mei        = 31 hari

    Juni    = 14 hari

             90 hari


     

    Perhitungan hari discount:

    Mei        = 16 hari

    Juni    = 14 hari

             30 hari


     

    Untuk membuat jurnal pada tanggal penjualan perllu dibandingkan antara nilai nominal wesel dengan hasil penjualan. Jika hasil penjualan lebih besar daripada nilai nominal, maka selisihnya merupakan pendapatan bunga. Sebaliknya jika hasil penjualan lebih kecil daripada nilai nominal maka selisihnya dicatat sebagai beban bunga. Dengan demikian jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 15 Mei 2006 adalah sebagai berikut:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Mei 2 


 

Kas

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga 


 

2,553.54


 


 

2,500.00

53.54


 

Jika saat jatuh tempo, debitur membayar ke bank, PT ABC tidak menjurnal. Tetapi jika pada saat jatuh tempo, debitur tidak sanggup membayar dan bank menagih pada PT ABC sebesar $2,575, maka jurnal yang dibuat PT ABC adalah:


 

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Juni 14


 

Piutang

Kas


 

2,575


 


 

2,575


 

  1. PIUTANG USAHA BIASA
    1. Timbulnya piutang dan akuntansinya

      Piutang dapat timbul karena menjual barang/jasa atau karena perusahaan memberi pinjaman ke perusahaan lain. Umumnya piutang dicatat pada saat timbulnya yaitu setelah perusahaan menyerahkan baran/jasa yang dijual.

      1. Penjualan barang/jasa

        Jika perusahaan menjual jasa secara kredit, misalkan perusahaan pada tanggal 5 Januari 2006 telah menjual jasa sebesar Rp 5.000.000,00. Karena perusahaan sudah menyerahkan jasa, maka perusahaan dapat mengakui piutang dan pendapatan jasa dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Jan 5


 

Piutang Usaha

Pendapatan Usaha


 

5.000.000


 


 

5.000.000

  1. Pemberian Pinjaman

    Piutang juga dapat timbul karena perusahaan memberi pinjaman uang pada perusahaan lain. Misalnya pada tanggal 15 Januari 2006 PT Angkasa Pura II telah memberi pinjaman kepada pegawai sebesar Rp 500.000,00 maka jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2006

Jan 15


 

Piutang Pegawai

Kas


 

500.000


 


 

500.000


 

  1. Kerugian Piutang

    Piutang memiliki resiko tidak tertagih sehingga timbul kerugian. Terdapat dua metode dalam akuntansi kerugian piutang, yaitu:

    1. Metode Langsung

      Jika metode ini yang digunakan, perusahaan tidak membentuk cadangan. Jika ada piutang yang dihapus, Kerugian Piutang didebet, dan rekening Piutang dikredit. Saldo rekening Kerugian Piutang pada akhir tahun disajikan dalam Laporan Laba Rugi.

    2. Metode Cadangan/Penyisihan

      Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama membentuk cadangan atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban Kerugian Piutang dan mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada akhir tahun, saldo rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba Rugi, sedangkan saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang Piutang.

      Jika ada piutang yang dihapus, perusahaan tidak mengakui kerugian, sebab kerugian sudah diakui pada saat membentuk cadangan. Perusahaan mengurangi Cadangan dengan mendebet rekening Cadangan dan mengkredit rekening Piutang.

      Jika banyak penghapusan piutang, saldo Cadangan dapat habis, oleh karena itu setiap akhir tahun Cadangan disesuaikan. Jadi pencatatan kerugian piutang dilakukan pada saat:

  • pembentukan Cadangan; dan
  • penyesuaian saldo Cadangan.

Berikut ini contoh ikhtisar akuntansi kerugian piutang dengan metode Cadangan:

  1. Pada tanggal 31 Desember 2005 dibentuk cadangan kerugian piutang Rp 5.000,00
  2. Pada tanggal 19 September 2006 dihapuskan piutang sebesar Rp 3.000,00
  3. Pada tanggal 14 Desember 2006 diterima piutang yang telah dihapus Rp 2.500

Transaksi

Jurnal

Membentuk Cadangan

Beban Kerugian Piutang

Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang

5.000


 

5.000

Menghapus Piutang

Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang

Piutang

3.000


 

3.000

Menerima Piutang yang telah dihapus 

Piutang

Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang

2.500


 

2.500

Kas

Piutang

2.500


 

2.500

Menyesuaikan akun Cadangan

Pada akhir tahun dilakukan penyesuian berdasarkan:

  1. Penjualan b. Saldo Piutang

c. Menyesuaian saldo rekening Cadangan Kerugian Piutang

    1) Dasar Penjualan

Pertama, tentukan besarnya penjualan kredit selama setahun, jika tidak ada data gunakan total penjualan selama satu periode. Besarnya taksiran kerugaian ditentukan dengan mengalikan % kerugian dengan penjualan tersebut, lalu dijurnal. Misalkan penjualan kredit selama tahun 2005 sebesar Rp 1.000.000.000,00 dan ditaksir kerugian piutang adalah 5% x Rp 1.000.000.000,00 = Rp 50.000.000,00. Jurnal yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2005

Des 31


 

Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang


 

50.000.000


 


 

50.000.000

        

2) Dasar Piutang

        Terdapat tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Menentukan besarnya taksiran kerugian piutang;
  2. Membandingkan taksiran kerugian piutang dengan saldo rekening Cadangan/Penyisihan;
  3. Membuat jurnal jika hasil perbandingan pada poin b tidak sama.


 

Langkah pertama:

Untuk menentukan besarnya taksiran kerugian piutang dikemudian hari, dapat didasarkan pada: (1) Total piutang pada akhir tahun, atau (2) Umur masing-masing tagihan.

  1. Didasarkan pada Total Piutang

    Caranya dengan mengalikan total piutang dari rekening "Piutang" dengan % yang telah ditetapkan. Misalnya dari PT ABC diperoleh data sebagai berikut dan taksiran kerugaian piutang adalah 15% dari total piutang.

DEBITUR 

JUMLAH 

TGL FAKTUR 

TGL JATUH TEMPO 

PT A 

2.000 

20/12/2005 

20/01/2006 

PT B 

2.500 

15/10/2005 

15/11/2005 

PT ABC 

1.000 

15/11/2005 

15/12/2005 

PT X 

3.000 

3/10/2005 

3/11/2005 

PT Y 

2.500 

3/7/2005 

3/8/2005 

PT Z 

1.000 

3/8/2005 

3/9/2005 

JUMLAH 

12.000 

  

    Taksiran kerugian piutang = 15% x Rp 12.000,00 = Rp 1.800,00.

  1. Didasarkan pada Umur Piutang

    Caranya hampir sama, namun saldo rekening piutang dianalisis terhadap tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo, kemudian dikelompokkan menurut umurnya. Kemudian saldo masing-masing kelompok piutang dikalikan dengan prosentase yang telah ditetapkan berdasarkan pengalaman. Cara menentukan umur piutang dapat dicari (a) dari tanggal faktur ke 31 Desember atau (b) dari tanggal jatuh tempo ke 31 Desember.

    1. Umur piutang dihitung dari tanggal jatuh tempo ke tanggal 31 Desember

      Karena ada kemungkinan terdapat piutang yang belum jatuh tempo maka biasanya pengelompokannya meliputi piutang yang belum jatuh tempo dan yang sudah lewat waktu. Misalkan prosentase kerugian ditaksir sebagai berikut:

Umur Piutang 

% Taksiran Kerugian Piutang 

Belum jatuh tempo

10% 

Lewat waktu s.d. 30 hari 

15%

Lewat waktu lebih dari 30 hari

20% 


 

Untuk mempermudah menentukan besarnya taksiran kerugian dibuat daftar umur piutang sebagai berikut:

Nama Debitur 

Jumlah 

Belum Jatuh Tempo 

Lewat s.d 30 Hari 

Lewat Waktu > 30 Hari

PT A 

2.000 

2.000 

  

PT B 

2.500 

  

2.500 

PT ABC 

1.000 

 

1.000 

 

PT X 

3.000 

  

3.000 

PT Y 

2.500 

  

2.500 

PT Z 

1.000 

  

1.000 

Jumlah 

12.000 

2.000 

1.000 

9.000

% Penyisihan 

 

10%

15%

20%

Jumlah Penyisihan 

2.150

200

150

1.800

    
 

  1. Umur piutang dihitung dari tanggal faktur ke tanggal 31 Desember

    Karena umur piutang dihitung dari tanggal faktur, maka biasanya pengelompokan umur piutang berdasarkan jumlah hari. Misalkan prosentase kerugian ditaksir sebagai berikut:

Umur Piutang 

% Taksiran Kerugian Piutang 

s.d. 30 hari

10% 

31 s.d. 60 hari

15% 

lebih dari 60 hari

20% 


 

Untuk mempermudah menentukan besarnya taksiran kerugian dibuat daftar umur piutang sebagai berikut:

Nama Debitur 

Jumlah 

s.d. 30 hari

31 s.d. 60 hari

Lebih dari 60 hari

PT A 

2.000 

2.000 

  

PT B 

2.500

  

2.500 

PT ABC 

1.000 

 

1.000 

 

PT X 

3.000 

  

3.000 

PT Y 

2.500 

  

2.500

PT Z 

1.000 

  

1.000 

Jumlah 

12.000 

2.000 

1.000 

9.000

% Penyisihan 

 

10%

15%

20%

Jumlah Penyisihan 

2.150

200

150

1.800


 

Langkah kedua:

Membandingkan antara jumlah taksiran kerugian piutang yang telah dihitung dengan saldo rekening Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Dari perbandingan ini akan ada 4 kemungkinan, yaitu:

  1. Rekening Cadangan bersaldo Kredit yang sama dengan taksiran kerugian piutang hasil perhitungan, tidak ada penyesuaian.
  2. Rekening Cadangan bersaldo Kredit lebih kecil dari taksiran kerugian piutang hasi perhitungan, perlu ditambah dengan membuat jurnal penyesuaian.
  3. Rekening Cadangan bersaldo Kredit lebih besar dari taksiran kerugian piutang hasil perhitungan, perlu dikurangi dengan membuat jurnal penyesuaian.
  4. Jika Cadangan bersaldo debet, berarti Cadangan yang dihitung tahun lalu kurang, sehingga rekening Cadangan harus dikredit sejumlah saldo debet ditambah dengan jumlah taksiran kerugian piutang hasil perhitungan.


 

Langkah ketiga:

     Kasus I

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 2.150,00, maka tidak perlu ayat jurnal penyesuaian.


 

Kasus II

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 2.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2005

Des 31


 

Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang


 

150


 


 

150

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:

Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

   

Des 31 

 

2.000 

   

31 

AJP 

150 


 

Beban Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Des 31 

AJP 

150 

   
      


 

Kasus III

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 3.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2005

Des 31


 

Penyisihan Ker. Piutang

Beban Kerugian Piutang 


 

850


 


 

850

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:

Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

31 

AJP 

850 

Des 31 

 

3.000 

      


 

Beban Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

   

Des 31 

AJP 

850 

      


 

Kasus IV

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan debet Rp 1.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2005

Des 31


 

Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang


 

3.150


 


 

3.150

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:


 

Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Des 31 

 

1.000 

Des 31 

AJP 

3.150 

      


 


 


 

Beban Kerugian Piutang

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Tgl 

Uraian 

Jumlah 

Des 31 

AJP 

3.150 

   
      


 

  1. Penyajian di Neraca

    Piutang di sajikan di neraca sebesar nilai realisasinya. Nilai ini adalah jumlah yang akan diterima berupa nilai nominal dikurangi denan taksiran kerugian piutang yang telah dibentuk dan disesuaikan setiap akhir tahun. Dengan demikian jumlah tersebut merupakan jumlah yang diharapkan dapat ditagih.

    Dengan data di atas, Neaca PT ABC akan tampak sebagai berikut:


     

    PT ABC

    Neraca

    31 Desember 2005


     


 

Harta Lancar:

Kas                                    xx

Piutang                    Rp 12.000,00

Penyisihan Kerugian Piutang        (Rp 2.150,00)        Rp 9.850,00


 


 

Kadangkala perusahaan memberikan potongan tunai dan kesempatan untuk mengembalikan barang (retur penjualan). Jika perusahaan telah menjual barang dengan syarat di atas, maka ada kemungkinan pembeli akan membayar dalam masa diskon atau bahkan pembeli dapat saja mengembalikan barang ke perusahaan. Agar perusahaan dapat menyajikan nilai piutang sebesar nilai realissi, maka pada akhir tahun perusahaan membuat jurnal untuk mengakui retur dan pemberian potongan penjualan walaupun belum terjadi retur dan pemberian potongan tunai penjualan. Jurnal itu juga dmaksudkan untuk mengurangi nilai piutang sehingga nilai yang disajikan adalah sebesar nilai yang dapat direalisir. Misalkan pada akhir tahun 2005 diperkirakan bahwa debitur akan membayar dengan diskon Rp 20,00 dan melakukan retur Rp 100,00, maka perusahaan pada tanggal 31 Desember 2005 akan membuat jurnal:

    

Tgl. 

Akun

Debet 

Kredit 

2005

Des 31 


 

Potongan Tunai Penjualan

Cadangan Pot. Tunai Penjualan


 

20


 


 

20

Retur Penjualan

Cadangan Retur Penjualan

100


 

100


 

PT ABC

Neraca

31 Desember 2005


 


 

Harta Lancar:

Kas                                    xx

Piutang                        Rp 12.000,00

Cadangan Pot Tunai & Retur    Rp 120,00

Penyisihan Kerugian Piutang    Rp 2.150,00    (Rp 2.270,00)     Rp 9.730


 


 

SOAL LATIHAN

SOAL 1

Pada tanggal 1 Januari 2005 saldo akun piutang dangan Rp 2.000.000,00 dan saldo akun Penyisihan Kerugian Piutang Dagang Rp 250.000,00. Selama tahun 2005 telah terjadi transaksi sebagai berikut:

  1. Dijual secara kredit barang dagangan Rp 15.000.000,00
  2. Diterima uang hasil penagihan piutang Rp 14.000.000,00
  3. Dihapuskan piutang Rp 400.000,00
  4. Diterima piutang yang telah dihapus Rp 50.000,00

Diminta: Buat jurnal untuk mencatat transaksi di atas!


 

SOAL 2

Perusahaan pada tanggal 3 Maret 2007 menerima sebuah promes nominal Rp 50.000.000,00 dari seorang debitur (Tn. Abud) sebagai pelunasan hutang. Promes dengan bunga 12% itu jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2007. Pada tanggal 2 Mei 2007 wesel tersebut dijual ke Bank Amal dengan diskon 10% setahun.

Diminta: Jurnal waktu menerima dan menjual promes.


 

SOAL 3

Saldo akun Piutang per 31 Desember 2005 Rp 100.000.000,00 sementara itu saldo akun Cadangan Piutang (K) Rp 6.000.000,00. Ditaksir, dimasa datang piutang yang tak dapat ditagih 10% dari Piutang.

Diminta: Jurnal penyesuaian yang diperlukan.


 

SOAL 4

Saldo akun Piutang per 31 Desember 2005 Rp 100.000.000,00 sementara itu saldo akun Penjualan (K) Rp 600.000.000,00, Cadangan Kerugian Piutang (K) Rp 2.000.000,00. Ditaksir, dimasa datang piutang yang tak dapat ditagih 1% dari Penjualan.

Diminta: Jurnal penyesuaian yang diperlukan.

8 komentar

  1. google Says:
  2. mf.. bos saya juga anak akuntansi di salah satu universitas di kota medan menurut saya ada sedikit kata-kata bos yang salah di dalam penjurnalannnya yaitu paa tabel no 9 bos membuat jurnal pada saat penerimaan kembali piutang yang tela dihapuskan bos buat jurnalnya seperti ini :

    Piutang

    Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang

    Padahal itu salah, begini kalau kita menerima kembali piutang yang telah di hapuskan misalnya kan jurnalnya itu adalah

    Kas
    Penerimaan Piutang yg tlah dihapuskan

    Kalau bos tidAk percaya bos bisa lihat SAK.

     
  3. buat yg di atas: piutang pd cadangan kerugian piutang itu pemulihan atas piutang yg telah dihapuskan bukan penerimaan...Akunr resiprocal atas penghapusan piutang yang telah dijurnal sblmnya. jadi pada saat realisasi penerimaan baru jurnalnya kas pada piutang..

     
  4. komar Says:
  5. kalau kredit barang laporan rugi labanya gimana ya?
    contohnya gini:

    dijual secara kredit motor A dengan uang muka Rp. 3.750.000,- dengan angsuran perbulannya Rp. 825.000,- , harga pembelian sepeda motor A Rp. 8.500.000,-
    nah untuk laporan bulanan atas rugi labanya gimana? mohon pencerahannya

     
  6. Rajagukguk Says:
  7. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.  
  8. UII Official Says:
  9. Terimakasih Infonya
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
    :)
    twitter : @profiluii

     
  10. chacha Says:
  11. saya kurang mengerti dengan pencadangan kerugian piutang... tolong beri saya contoh yang lebih mudah saya mengerti.thx

     
  12. Bebek Kecil Says:
  13. maaf, kalo ada pertanyaan, seberapa besar laba yang diperoleh ( lebih besar / lebih kecil ) dengan metode langsung dan tidak langsung?

    laba akan lebih besar dengan menggunakan metode apa? terima kasih.

     
  14. saldo awal 1 januari 2000
    contoh, penjualan 50.000 (penjualan tunai 25%, sisanya kredit dgn syarat 2/10,n/30) aeperti apa jurnalnya??

     

Poskan Komentar

Profil

Artikel Populer